Gresik – Suasana berbeda tampak di lingkungan Asrama Putra Pondok Pesantren Maskumambang dalam sepekan terakhir. Selepas shalat berjamaah, santri terlihat berkumpul di sudut-sudut asrama dengan buku dan catatan di tangan. Sebagian membentuk kelompok diskusi, sementara yang lain tampak mengulang materi secara mandiri. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari ikhtiar para santri dalam menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Tahun Ajaran 2025/2026 yang tengah berlangsung.
Pelaksanaan UAS tahun ini dimulai sejak 6 Juni dan akan berakhir pada 12 Juni 2026. Ujian tersebut digelar secara serentak di seluruh lembaga pendidikan dasar dan menengah di bawah naungan Pondok Pesantren Maskumambang, mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Wakil Kepala Bidang Akademik MTs-AM YKUI Maskumambang, Ustadz Mohammad Ibrahim, S.Pd., mengatakan bahwa hingga memasuki hari ketiga pelaksanaan ujian, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. “Alhamdulillah, hari ini kita sudah menjalankan UAS genap tahun ajaran 2025/2026 pada hari ketiga dengan lancar sesuai harapan”.
Setiap harinya, santri mengikuti dua mata pelajaran yang diujikan mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB. Namun, bagi santri yang tinggal di asrama, persiapan menghadapi ujian tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Rutinitas belajar tambahan yang dijalani selepas kegiatan pesantren menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut.
Di tengah padatnya aktivitas asrama, semangat belajar para santri justru semakin terasa. Ahmad Ramzi Azwar Dhani, salah satu santri Asrama Putra Maskumambang, mengungkapkan bahwa waktu malam menjadi kesempatan utama bagi santri untuk memperdalam materi pelajaran.
“Kita biasanya belajar bersama setelah Maghrib sampai jam sembilan malam. Tetapi kalau ada kegiatan tertentu, seperti buka puasa bersama pada hari Senin dan Kamis, jadwalnya menyesuaikan dan dimulai jam delapan setelah jamaah shalat Isya,” kata Ramzi.

Dalam keterangan Ramzi, waktu belajar sebagian santri bahkan tidak berhenti hingga malam hari. Menjelang ujian, tidak sedikit yang memanfaatkan waktu selepas Ashar untuk mengulang materi dan melanjutkannya hingga larut malam. Mata pelajaran seperti Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, serta pelajaran keagamaan menjadi fokus utama karena membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam.
Menariknya, budaya belajar di lingkungan asrama Maskumambang tidak hanya bertumpu pada kegiatan membaca atau menghafal. Para santri mengembangkan berbagai metode belajar yang dinilai lebih efektif dan menyenangkan. Membuat kelompok diskusi, kuis antarteman, hingga praktik saling mengajar menjadi pemandangan yang lazim ditemui menjelang masa ujian.
“Biasanya setelah kegiatan malam, kita membuat kelompok belajar. Ada yang membuat kuis supaya tidak bosan. Kadang juga belajar sambil mengajar teman. Cara seperti itu justru membuat materi lebih mudah dipahami dan diingat,” tutur Ramzi.
Kondisi tersebut, menurut Ustadz Mohammad Ibrahim, menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan capaian santri, khususnya dalam bidang keagamaan. Ia menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari perpaduan antara sistem pembelajaran pesantren, kedisiplinan santri, serta pendampingan intensif dari para pembina asrama.
MTs dan MA Maskumambang, lanjutnya, memang menempatkan penguatan ilmu-ilmu keislaman sebagai salah satu keunggulan utama. Selain memperoleh pendidikan formal, para santri juga dibekali pendidikan kepesantrenan yang nantinya dibuktikan dengan ijazah pesantren saat menyelesaikan masa studinya.

Di balik target akademik yang ingin dicapai, terdapat nilai lain yang tumbuh kuat di lingkungan Asrama Putra Maskumambang, yakni kebersamaan. Bagi Ramzi, dukungan teman-teman menjadi energi tersendiri selama menjalani masa ujian.
“Saya bersyukur bisa tinggal di asrama. Lingkungannya nyaman dan teman-teman sangat suportif. Saat ujian seperti ini, kita saling membantu dan saling mengingatkan. Itu menjadi nilai lebih yang saya rasakan sebagai anak asrama,” ungkap Ramzi.
Di tengah pelaksanaan UAS yang masih berlangsung, suasana belajar di Asrama Putra Maskumambang menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dibangun melalui proses pembelajaran di kelas. Kebiasaan saling mendukung, kedisiplinan mengatur waktu, dan semangat belajar yang tumbuh bersama menjadi modal penting yang terus dirawat dalam kehidupan pesantren. Dengan bekal itulah para santri berupaya menapaki setiap tahapan pendidikan, sekaligus membangun karakter yang menjadi ciri khas santri Maskumambang.
