Gresik – Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di MTs YKUI Maskumambang Dukun, Gresik, kini dikemas secara kreatif. Ustadz Husni Mubarrok, S.Pd., M.AP., selaku guru IPS, berinovasi menggunakan media permainan ular tangga untuk mengajarkan materi Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dan Mitigasi Kebencanaan.

Metode ini dirancang khusus untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan menghindari pendekatan teacher-oriented. Peserta didik tidak sekadar duduk mendengarkan penjelasan, tetapi terlibat langsung dalam permainan, berdiskusi, dan memecahkan tantangan yang mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran dikemas agar anak-anak tidak bosan dan tidak teacher oriented. Semua peserta didik harus terlibat dalam proses pembelajaran,” ujar Ustadz Husni.
Modifikasi Ular Tangga Edukatif
Ular tangga yang digunakan di kelas ini bukanlah versi biasa. Setiap langkah pion diwarnai dengan pertanyaan terkait materi IPS. Untuk mendukung permainan, guru menyiapkan beberapa elemen interaktif:
Kartu Edukasi Akademik: Terdiri dari Kartu SDGs, Aksi Nyata Positif SDGs, Aksi Nyata Negatif SDGs, dan Kartu Mitigasi Bencana.
Kartu Spiritual Paradigma: Berisi penguatan nilai keagamaan, seperti dalil kerusakan alam akibat ulah manusia, serta doa saat turun hujan atau tertimpa musibah.
Kotak Tematik Papan Permainan: Meliputi kotak SDGs, aksi menyiram tanaman, tangga, hingga ular.
Dengan sistem ini, peserta didik tidak hanya mengejar posisi terdepan, tetapi juga dituntut mampu menyelesaikan setiap tantangan edukatif.
Kolaborasi Tim dan Apresiasi Bintang
Dalam praktiknya, siswa dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri atas 4–5 orang, sementara dua siswa lainnya bertugas sebagai tim penilai. Peserta secara bergantian melempar dadu, menjalankan pion, dan menjawab tantangan. Model ini terbukti efektif mendorong kolaborasi, interaksi, dan pemikiran kritis siswa.
Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, guru memberikan “Bintang” kepada siswa yang berhasil menjawab tantangan. Pemenang permainan ditentukan secara komprehensif melalui:
Kecepatan pion melangkah mencapai garis akhir.
Akumulasi jumlah bintang yang berhasil dikumpulkan oleh kelompok.
Sistem tersebut membuat permainan lebih menarik sekaligus memberikan penghargaan terhadap proses dan kemampuan peserta didik dalam menjawab tantangan.
Guru berperan sebagai pemandu sekaligus fasilitator, memberikan arahan, mengamati jalannya permainan, memberikan apresiasi, dan memastikan setiap peserta didik mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi.

Evaluasi dan Pesan Moral Berkelanjutan
Setelah permainan usai, kegiatan ditutup dengan sesi review materi secara menyeluruh. Guru, yang juga berperan sebagai fasilitator, memastikan bahwa kegembiraan saat bermain tetap terhubung erat dengan tujuan pembelajaran inti.
Melalui media ular tangga ini, siswa diajak menyadari bahwa SDGs dan kesiapsiagaan bencana membutuhkan kepedulian lingkungan, aksi nyata, dan landasan spiritual yang kuat. Belajar SDGs kini bukan sekadar tentang siapa yang sampai di garis akhir lebih dulu, tetapi siapa yang paling banyak belajar dan mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.
