GRESIK– YKUI Pondok Pesantren Maskumambang Gresik menggelar kegiatan ‘Sharing Session’ sebagai langkah nyata untuk menyegarkan kembali semangat mendidik sekaligus meningkatkan mutu profesionalisme guru. Acara yang diikuti oleh seluruh jajaran tenaga pendidik ini berlangsung khidmat di Ruang Perpustakaan IHKAM pada hari Ahad, 28 Juni 2026.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebuah momentum krusial untuk merefleksikan kembali peran guru di tengah dinamika zaman yang terus berubah cepat. Diikuti oleh puluhan guru dari berbagai jenjang pendidikan di bawah naungan YKUI Pondok Pesantren Maskumambang, suasana Perpustakaan IHKAM yang biasanya tenang seketika berubah menjadi penuh energi positif dan antusiasme tinggi. Seluruh rangkaian materi dalam ‘Sharing Session’ kali ini pun disusun ke dalam beberapa sesi utama.
Sesi Pertama: Fondasi Mengajar Dimulai dari Kesadaran Diri
Agenda dibuka dengan sesi pengarahan sekaligus suntikan motivasi yang disampaikan oleh Ustadz Ghois, BA selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Maskumambang. Dalam pemaparannya, beliau mengingatkan sebuah poin penting: esensi utama seorang pendidik justru dimulai dari kesadaran diri yang mendalam tentang tugas dan perannya. Guru tidak boleh terjebak dalam rutinitas sekedar menggugurkan kewajiban mengajar atau urusan administratif semata, karena hal itu bisa mengikis ketulusan dalam mendidik.
“Menjadi guru bukan sekadar profesi formal untuk mentransfer ilmu, melainkan sebuah amanah peradaban. Kesadaran penuh akan tanggung jawab ini harus tertanam kuat di dalam hati, agar setiap lelah dalam mendidik melahirkan keberkahan dan karakter mulia pada murid,” ungkap Ustadz Gois, BA.
Beliau juga menambahkan bahwa sebelum seorang pendidik berusaha menyentuh hati dan memperbaiki karakter murid, ia harus lebih dulu mematangkan kesadaran spiritual dan emosionalnya sendiri. Pengarahan ini mengingatkan para peserta akan pentingnya menjaga niat awal mereka dalam mendidik.

Sesi Kedua: Mengingat Kembali Kitab ‘Bertuhan Sepenuh Jiwa
Setelah pondasi kesadaran diri diperkuat, agenda berlanjut ke sesi berikutnya yang dipandu langsung oleh Ustadz Nidhol. Pada sesi ini, fokus diskusi diarahkan terlebih dahulu untuk mengingat kembali kitab “Bertuhan Sepenuh Jiwa”, sebuah literatur mendalam yang sebelumnya telah dibaca dan dikaji oleh para guru YKUI Pondok Pesantren Maskumambang.
Ustadz Nidhol mengajak para peserta untuk mendalami kembali esensi dari kitab tersebut dan mengaitkannya dengan realitas dunia pendidikan. Pembahasan kitab ini bertujuan untuk menyelaraskan visi spiritual guru, sehingga proses belajar-mengajar di kelas tidak hanya melahirkan murid yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedekatan hati yang kuat kepada Sang Pencipta. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap kitab ini, diharapkan setiap pendidik mampu mengajar dengan ketulusan hati yang penuh, menjadikan aktivitas mendidik sebagai ladang ibadah yang utama.
Sesi Ketiga: Tanya Jawab yang Hidup dan Solutif
Memasuki sesi tanya jawab, suasana di dalam Perpustakaan IHKAM semakin hidup lewat forum interaktif bersama Ustadz Nidhol. Sesi ini menjadi ruang terbuka bagi para guru untuk mencurahkan dinamika mengajar sekaligus memperdalam pemahaman spiritual.
Sesi diskusi ini memantik berbagai pertanyaan, salah satunya dari ustadz muda, Ustadz Henry, yang menanyakan tentang hakikat dan konteks tawakal terkait rezeki manusia.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Nidhol menjelaskan bahwa tawakal yang benar bukanlah pasrah tanpa berbuat apa-apa, melainkan mengerahkan ikhtiar serta usaha terbaik secara maksimal, lalu menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah. Beliau juga mengingatkan bahwa hakikat rezeki bagi setiap manusia tidak selalu berbentuk materi atau uang, melainkan bisa berwujud keberkahan hidup, kesehatan, ketenangan hati, hingga keluarga yang saleh. Penjelasan ini meluruskan cara pandang para guru dalam memahami ketetapan dan takdir sang pencipta.
Diskusi semakin berkembang ketika seorang guru senior menanyakan bagaimana cara terbaik untuk menjiwai diri sebagai seorang guru. Menanggapi hal tersebut, Ustadz Nidhol menawarkan solusi yang adaptif.
“Kita tidak bisa membendung perkembangan zaman. Solusinya bukan menjauhkan murid dari teknologi, melainkan menata ulang dan bagaimana kita sebagai guru bisa hadir di dunia mereka lewat metode mengajar yang lebih kreatif atau visualisasi yang kuat di awal kelas,” jelas Ustadz Nidhol.
Forum dua arah ini berjalan penuh kehangatan. Diselingi sedikit gelak tawa dari para dewan guru, sesi ini diharapkan dapat menyatukan persepsi dan membangun optimisme baru untuk menghadapi tantangan pendidikan ke depan.
Komitmen Menuju Pendidikan yang Lebih Bermakna
Melalui perpaduan antara penguatan mental dari Ustadz Gois, BA dan diskusi teknis serta spiritual yang solutif bersama Ustadz Nidhol di sepanjang acara, ‘Guru Session’ kali ini sukses menyuntikkan energi baru bagi para pendidik. YKUI Pondok Pesantren Maskumambang membuktikan bahwa kualitas pendidikan terbaik di dalam kelas selalu dimulai dari guru yang tidak pernah lelah untuk belajar dan membenahi diri.
Seluruh rangkaian acara pun ditutup dengan sesi doa bersama yang berlangsung khidmat. Kegiatan ini membekali para guru tidak hanya dengan strategi mengajar yang baru, tetapi juga kesiapan mental untuk kembali ke kelas demi mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.