Gresik – Pelaksanaan Ramadan Camp 1447 H di Pondok Pesantren Maskumambang tahun ini terasa istimewa. Kegiatan pembinaan santri tersebut bertepatan dengan fenomena gerhana bulan total yang terjadi pada Selasa malam (3/3/2026).
Momentum langka ini dimanfaatkan oleh pesantren untuk menguatkan nilai keagamaan sekaligus wawasan ilmiah para santri. Koordinator Bidang Sains, Ustadz H. Kukuh Dwi Prasetyo, S.Si., menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Ramadan Camp sebelumnya telah membekali santri dengan materi tentang shalat gerhana, meliputi niat, rukun, doa, serta sunnah-sunnah yang dianjurkan.

“Alhamdulillah malam ini kita melaksanakan shalat gerhana bulan total setelah shalat tarawih. Sebelumnya, dalam Ramadan Camp 1447 H telah diadakan materi terkait tata cara pelaksanaan shalat gerhana agar santri lebih siap dan mantap dalam mengamalkannya,” ujar Ustadz Kukuh.
Beliau menjelaskan, sebelum pelaksanaan shalat tarawih, pesantren juga mengadakan pengamatan bulan menggunakan teropong dan teleskop. Meskipun kondisi cuaca kurang mendukung sehingga gerhana pada awalnya sulit diamati secara langsung dengan mata telanjang, kegiatan observasi tetap dilaksanakan dengan melibatkan para guru yang berkecimpung di bidang sains dan ilmu falak.

Shalat gerhana sendiri dipimpin oleh Ustadz Wafiq Jihad Ramadhan, Lc. dan dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan setelah shalat tarawih. Seusai shalat, para jamaah menyimak khutbah dan tausiyah dari Pemangku Pondok Pesantren Maskumambang, K.H. Nidlol Masyhud, yang menekankan makna gerhana dalam perspektif agama islam.

Arahan Pemangku Pondok Pesantren Maskumambang: Gerhana Adalah Tanda Kebesaran Allah
Dalam paparannya, Pemangku Pesantren, K.H. Nidlol Masyhud menegaskan bahwa gerhana bukanlah peristiwa yang berkaitan dengan mitos atau kejadian tertentu dalam kehidupan manusia, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala Sang Pengatur peredaran semua benda di alam semesta yang semestinya membuat hati setiap mukmin bergetar menyaksikannya.
Beliau menjelaskan bahwa secara astronomi memang gerhana dapat diterangkan sebagai fenomena rutin dari posisi matahari serta peredaran bulan dan bumi. Gerhana bahkan sudah dapat diprediksi secara cermat. Namun, bagi seorang mukmin fenomena unik tersebut akan otomatis mengingatkan jiwa akan keagungan dan kedahsyatan Allah Ta’ala. Mendengar nama Allah saja seorang mukmin itu sudah bergetar hatinya, apalagi ketika ia menyaksikan suatu tanda kekuasaan Allah di langit.

“Bagi orang beriman, setiap fenomena alam adalah ayat atau tanda kebesaran Allah Ta’ala. Gerhana mengingatkan bahwa seluruh alam semesta berada dalam pengaturan dan kekuasaan-Nya,” ungkap K.H. Nidlol Masyhud.
Lebih lanjut, K.H. Nidlol Masyhud mengingatkan satu kepastian logis, bahwa sebagaimana Allah mampu menutupi tampilan benda langit yang biasa bersinar atau memantulkan cahaya, maka Allah Ta’ala juga Maha mampu mencabut kenikmatan dan bahkan nyawa. Allah pun mampu menciptakan kejadian yang lebih dahsyat dari itu tanpa sempat diprediksi oleh seluruh manusia, misalnya penggelaran Hari Kiamat.
Beliau juga mengingatkan ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak dzikir, doa, sedekah, serta melaksanakan shalat ketika menyaksikan terjadinya gerhana bulan dan matahari. Anjuran tersebut dimaknai sebagai bentuk ketundukan dan kesadaran manusia atas kebesaran Sang Pencipta.
