Sejarah

maskumambangPondok Pesantren Maskumambang didirikan pada tahun 1859 M./1281 H. oleh K.H. Abdul Djabbar sebagai usaha dia untuk mencetak kader-kader da’i yang diharapkan dapat menghapus kepercayaan-kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam

Pada awal berdirinya, Pesantren Maskumambang yang terletak di Desa Sembungan Kidul Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur, ( + 40 KM arah barat laut Kota Surabaya ) hanya mendidik masyarakat sekitar Maskumambang, dan itupun terbatas pada pelajaran al-Qur’an dan tafsir,serta fiqih.

Metode yang dipergunakan juga masih terbatas pada metode sorogan, bandongan, dan halaqoh. Pada tahun 1907 M. bertepatan dengan tahun 1325 H. K.H. Abdul Djabbar berpulang ke Rahmatullah dalam usia 84 tahun, dan kepemimpinan pesantren diteruskan K.H. Moch. Faqih yang terkenal dengan sebutan Kyai Faqih Maskumambang.

Pada masa kepemimpinan KH. Moch Faqih Pondok Pesantren Maskumambang mengalami perubahan yang cukup berarti. Santri yang datang mengaji tidak hanya berasal dari sekitar Maskumambang, tetapi banyak juga yang berasal dari daerah lain .

Pada tahun 1937 M. bertepatan dengan tahun 1353 H. K.H. Moch. Faqih berpulang ke Rahmatullah dalam usia 80 tahun dan kepemimpinan Pondok Pesantren Maskumambang diteruskan oleh putra dia yang keempat yaitu KH.Ammar Faqih.

Pada masa kepemimpinan KH.Ammar Faqih, selain sebagai tempat mengaji atau memperdalam ilmu agama lewat pelajaran al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab kuning lainnya, oleh KH. Nadjih Ahjad yang saat itu sudah ikut mengasuh Pesantren Maskumambang,, diselenggarakan pula Madrasah Banat (madrasah putri).

Selain itu Pondok Pesantren Maskumambang juga dijadikan markas para pejuang kemerdekaan dari Gresik, Surabaya dan Lamongan.

Pada hari Selasa malam Rabu tanggal 25 Agustus 1965 M. K.H. Ammar Faqih berpulang ke Rahmatullah. Sebelum berpulang ke Rahmatullah dia telah menyerahkan kepemimpinan pesantren kepada menantu dia yang kedua, yaitu K.H. Nadjih Ahjad.

Dalam memimpin pesantren KH.Nadjih Ahjad melakukan pembaruan-pembaruan dalam bidang kelembagaan, organisasi, metode dan sistem pendidikan, kurikulum, serta Bidang sarana / Prasarana.

KH. ABDUL DJABBAR
KH. Abdul Djabbar dilahirkan pada tahun 1241 H/1820 M di Sidayu Kabupaten GresikNama kecil beliau adalah Ngabidin kata serapan jawa dari bahasa arab ‘Abidin, yang berarti ahli ibadah. Beliau putera pertama dari tiga bersaudara. Dua adiknya adalah K. Muniban, Nyai Ngapiani atau Nyai Utami. Ayah beliau bernama Kadiyun bin Wirosari alias Kudo Leksono, seorang kepala kampung (demang) di sebuah desa Kalimati (Kalirejo) pada awal abad 18. Gelar Kudo Leksono diberikan oleh Bupati waktu itu, karena besarnya pengaruh Wirosari di masyarakat.

Dilihat dari silsilah keluarga, KH. Abdul Djabbar adalah keturunan Rasulullah SAW dari jalur Fathimah az-Zahra, dengan urutan Abdul Djabbar bin Kadiyun bin Kudo Leksono bin Nyai Siman binti Nyai Sarimah binti Ongkoyudo bin Abdillah bin Abdul Djabbar (alias Kusumuyudo) bin Pangeran Selarong bin Pangeran Bawono bin Pangeran Pajang alias Lembupeteng alias Joko Tingkir bin Ki Ageng Pengging (Raden Kebo Kenanga) bin Syarief Muhammad Kebungsuan (Ki Ageng Wuking I) bin as-Sayyid As-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini bin as-Sayyid Ahmad Shah Jalalbin as-Sayyid Abdullah Azmatkhan bin as-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin as-Sayyid ‘Alawi Ammil Faqih bin as-Sayyid Muhammad Sohib Mirbath bin as-Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin as-Sayyid Alawi ats-Tsani bin as-Sayyid

Muhammad Sohibus Saumi’ah bin as-Sayyid Alawi Awwal bin as-Sayyid ‘Ubaidillah bin as-Sayyid Ahmad al-Muhajir bin as-Sayyid ‘Isa Naqib ar-Rumi bin as-Sayyid Muhammad an-Naqib bin as-Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin as-Sayyid Ja’far as-Sodiq bin al-Imam Muhammad al-Baqir bin al-Imam ‘Ali Zainul ‘Abidin bin al-Imam Sayyidina Hussain bin Sayyidah Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad Saw. Pada masa muda KH. Abdul Djabbar bekerja sebagai pegawai pada kantor Kabupaten Sedayu. Beliau rajin, tekun dan amanah sehingga dicintai oleh kanjeng Bupati. Namun, tidak lama kemudian beliau berhenti dari pekerjaan itu, dan nyantri ke Desa Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, lalu melanjutkan nyantri ke Tugu Kedawung Kabupaten Pasuruan.

Setelah cukup dalam menuntut ilmu, beliaupun kembali ke Dukun Gresik. Pada tahun 1855, dalam usia 35 tahun,beliau menikah dengan Nyai Nursimah, putri Kyai Idris, Kebondalem Boureno Bojonegoro, yang juga masih kuturunan Joko Tingkir. Selepas menikah, Abdul Djabbar dan Nyai Nursimah membuka sebidang tanah yang masih merupakan hutan kecil di tengah-tengah Desa Sembungankidul Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur (± 40 Km arah barat laut kota Surabaya). Setelah berhasil membuka dan membersihkan daerah itu didirikan sebuah rumah yang amat sederhana untuk tempat tinggal sehari hari.

Beberapa tahun kemudian, Abdul Djabbar beserta istrinya menunaikan ibadah haji. Selama di Mekkah, KH.Abdul Djabbar mengaji kepada beberapa ulama besar yang membuka pengajian di sekitar Masjidil Haram. Setelah dua tahun menetap di Mekkah, Abdul Djabbar dan Nyai Nursimah pulang kemudian mendirikan langgar panggung di sebelah rumah beliau,berukuran luas ±5 m 2 dengan tinggi bangunan ± 2,5 m dan tinggi alas dari permukaan tanah 1 m, serta atap bangunan dari anyaman daun kelapa, sebagai tempat belajar putra-putri beliau dan penduduk sekitar.

Setelah santri yang datang mengaji bertambah, beliau membangun tiga buah kamar, masing-masing berukuran 2 m x 1,5 m. Tempat ini akhirnya dikenal dengan nama Maskumambang. Nama Maskumambang yang diberikan kepada pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Djabbar pada tahun 1859 m/1281 H ini cukup unik karena umumnya nama pesantren itu diambil dari Bahasa Arab atau tokoh-tokoh Muslim.Keunikan nama pesantren ini telah mengundang banyak fihak untuk menafsirkan dan atau mencari makna dibalik nama Maskumambang tersebut.

KH. Nadjih Ahjad (1936-2015) menyebutkan bahwa nama Maskumambang kemungkinan diambil dari nama salah satu jenis tembang mocopat gubahan Sunan Kudus berjudul Maskumambang yang menggambarkan kehidupan seseorang mulai masih berupa roh menjelang ditempatkan di rahim seorang ibu, sampai menjadi seorang bayi yang dilahirkan ke dunia oleh ibunya dalam keadaan kesakitan disertai keluhan keprihatinan .Atau mungkin juga diambil dari kata mas dan kumambang. Kata mas secara harfiyah berarti emas, mempunyai makna perhiasan dari logam mulia yang banyak dipakai wanita, sedangkan kumambang berasal dari kata dasar (tembung lingga = Jw) kambang mendapat sisipan (seselan = Jw) um, yang berarti terapung dalam bahasa Indonesia.Kemungkinan-kemungkinan tersebut hanyalah merupakan hasil pemikiran yang didasarkan pada etimologi saja.

Pendapat yang menyebutkan bahwa nama pesantren ini kemungkinan diambil dari tembang jawa, Maskumambang, barangkali dapat diterima, sebab konon kabarnya pesantren ini dirintis oleh KH. Abdul Djabbar sebagai wujud keprihatinan beliau terhadap kehidupan masyarakat waktu itu yang jauh dari ajaran Islam. Sedangkan pendapat yang menyatakan kemungkinan nama Maskumambang ini diambil dari kata Mas dan Kumambang adalah karena adanya kenyataan bahwa lokasi pesantren ini semula adalah semak belukar dan di kemudian hari berubah menjadi daerah yang indah, subur dan tempat mencari ilmu, seakan-akan emas yang mengapung.

Pada tahun 1907 M / 1325 H, KH. Abdul Djabbar berpulang ke rahmatullah dalam usia 87 tahun, dan kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putra beliau, KH. Muhammad Faqih yang terkenal dengan sebutan kyai Faqih Maskumambang.

KH.Muhammad Faqih
K.H. Muhammad Faqih adalah putra keempat K.H. Abdul Djabbar. Beliau lahir pada tahun 1857 M. Di Desa Sembungankidul.Di masa kanak-kanak beliau mendapat bimbingan spiritual dan pendidikan agama langsung dari ayah beliau. Selain belajar agama, beliau juga belajar berdagang, bercocok tanam dan bergaul dengan masyarakat sekitar.

Pada usia remaja, Muhammad Faqih nyantri di beberapa pondok pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Kebondalem Surabaya, Pondok Pesantren Ngelom Sepanjang Sidoarjo, Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik, dan Pondok Pesantren Langitan Tuban. Selanjutnya beliau nyantri di pesantren Kiai Kholil Bangkalan Madura. Selepas dari pesantren Kiai Kholil, beliau memutuskan untuk menuntut ilmu ke kota Mekkah. Selama di Mekkah, KH. Muhammad Faqih mengaji kepada para ulama yang saat itu banyak membuka pengajian di sekitar Masjidil Haram. Salah seorang Ulama tempat beliau mengaji saat itu adalah Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi, yang lebih terkenal dengan sebutan Syaikh Mahfudh Tremas.

KH. Muhammad Faqih seorang ulama besar yang terkenal di Pulau Jawa, bahkan sampai keluar Jawa. Beliau ahli Tafsir, Tauhid, Fiqih, Nahwu, Balaghah, Mantiq, Ushul Fiqih dan lain-lain.  K.H. Muhammad Faqih mulai memusatkan perhatiannya untuk mengasuh Pesantren Maskumambang pada tahun 1907. Dengan bantuan saudara-saudaranya dan didukung oleh masyarakat sekitar, beliau mulai melakukan pengembangan persantren, baik dari sisi fisik maupun sistemnya.Pada masa kepemimpinan beliau, bangunan asrama yang semula hanya terdiri atas tiga kamar, bertambah menjadi tujuh kamar; masing-masing berukuran 2 m x 1,5 m, terpisah dengan langgar panggung tetapi tetap berada di sebelah kirinya. Pada masa itu, Sistem pengajaran pesantren Maskumambang yang semula hanya berbentuk sorogan, dan halaqoh, ditambah dengan sistem bandongan dan wetonan.

Kurikulumnya berdasarkan pada pola pengajaran tuntas kitab. Kitab-kitab yang diajarkan pada masa kepemimpinan beliau sama dengan kitab-kitab yang diajarkan pada pesantren salafiyah pada umumnya, yaitu bidang Fiqih (Safinah al-Najah, Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, I’anah al-Talibin, Fath al-Wahhab, al-Muhadzdzab, dan al-Iqna’), bidang Hadits (Nail al-Autar, Riyad al-Shalihin), bidang Tafsir (Tafsir al-Jalalain), bidang Tasawuf (Ihya’ Ulum al-Din), dan bidang Aqidah (‘Aqidah al-Awwam). Dalam ibadah keseharian, pada masa KH. Muhammad Faqih tidak berbeda dengan yang dipraktikkan pada masa KH. Abdul Djabbar, yaitu mengikuti mazhab Syafi’iyyah. Pada masa itu, para santri berdatangan dari berbagai daerah.

Hal ini disebabkan letak Maskumambang yang berdekatan dengan Sidayu Gresik. Sidayu pada saat itu menjadi pusat perdagangan, yaitu tempat berkumpulnya para pedagang dari pulau Madura, Kalimantan, Sumatera, Surabaya, Tuban, Lamongan, dan daerah lainnya. Selain itu, Sidayu juga menjadi pusat pemerintahan Kabupaten SurabayaPada masa kepemimpinan beliau, Maskumambang merupakan salah satu pusat studi Islam yang sangat terkenal di Pulau Jawa, bahkan di sebagian wilayah Nusantara. Waktu itu, santri Maskumambang selain memperoleh pendidikan agama, juga dimotivasi untuk memiliki semangat berjuang merebut kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, sebagian besar santri beliau kemudian memberikan kontribusi terhadap negara, dan menjadi tokoh masyarakat pada zamannya.Di antara tokoh terkenal yang dilahirkan maskumambang pada periode KH. Mohammad Faqih adalah:
1) KH. Fatah Yasin (mantan Menteri Penghubung Alim Ulama Indonesia)
2) KH. Wahid Hasyim (mantan Menteri Agama)
3) KH. Adlan Ali (pengasuh pesantren Cukir Jombang)
4) KH. Ridwan Syarqowi (pengasuh pesantren Paciran)
5) KH. Masykur (pengasuh pesantren Galang, Lamongan)
6) KH. Zubair (pengasuh pesantren Lamongan)
7) KH. Nur Aziz (tokoh NU Singosasi Malang)
8) KH. Arfa’i Indrojono (Tokoh PSII Jawa Timur
9).KH.Mukhtar Faqih, putera keenam KH. Muhammad Faqih, (pemangku Pesantren Kebondalem Surabaya, Rois Syuriyah NU Surabaya)
10) KH. Adnan Noor (Lamongan)
11) KH. Majdi Ali (Blimbing, Lamongan)
12).KH. Abdul Hamid, putera KH. Muhammad Faqih (mendirikan
pesantren di Karangbinangun)
13) KH. Hamim Syahid (Sepanjang Sidoarjo)
14) KH. Zubair Dahlan (pendiri Pesantren Sarang Jawa Tengah),
15) KH. Abdul Hadi (pemangku Pesantren Langitan Tuban yang
keempat),
16) KH. Imam Khalil bin Syu’aib (Sarang),
17) KH. Ma’shum ali (Kwaron Seblak),
18) KH. Faqih Usman (pernah menjadi ketua Muhammadiyah Surabaya,
Ketua PP Muhammadiyah, dan Menteri Agama RI ke-5).

Selain mengajar, beliau juga menulis beberapa buku. Di antara buku karya beliau yang masih dapat dibaca adalah “Al-Mandzumah Al-Dailah fi Awaili Al-Asyhur Al-Qamariyah”dan “an-Nushush al-Islamiyyah fi Raddi ‘ala al-Madzahib al-Wahhabiyyah”.

“Al-Mandzumah Al-Dailah fi Awaili Al-Asyhur Al-Qamariyah” berisi tentang ilmu falaq [astronomi]. Buku yang terdiri dari dua teks, yakni teks. pertama berupa nadzam, sedang teks kedua berisi natsar (prosa), ini ditemukan pada koleksi K.H. Abdul Hadi (pengasuh Pondok Pesantren Langitan tahun 1921-1971), sebagai salah satu buku yang diajarkan kepada beliau ketika belajar kepada K.H. Faqih Maskumambang pada tahun 1930.

Penulisan buku yang terdiri dari nadhom dan prosa ini menunjukkan bahwa beliau telah mengadakan pendidikan ilmu fisika astronomi dengan cara yang menyenangkan.Beliau juga menjadikan agama mampu melintasi ilmu fisika-astronomi, iimu sosial pendidikan dan ilmu-ilmu humaniora [sastrra].Dan pendidikan dengan cara yang menyenangkan ini telah tertata rapi di Pesantren Maskumambang tempo dulu.

“An-Nushush al-Islamiyyah fi Raddi ‘ala al-Madzahib al-Wahhabiyyah”.yang diyakini oleh penerjemah dan pentahqiqnya, ( KH. Abdul Aziz Masyhuri) sebagai hasil karya KH. Muhammad Faqih yang disebut ditulis tahun 1922 dan diterbitkan kembali setelah 93 tahun hilang, berisi sikap KH. Muhammad Faqih terhadap Wahabi.Buku ini terdiri dari beberapa fasal, dengan pembahasan: Fasal pertama berisi penolakan beliau atas pengertian Wa Fi Sabilillah dalam Qur’an Surat at Taubah ayat 60 versi Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi ad-Dimasyqi. Fasal kedua berisi perkara-perkara yang menjadi ijma’ ulama Sunnah, Fasal ketiga berisi karakteristik pemikiran pemimpin Wahabi,(Ibnu Taimiyah, Ibnual-Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh,Rasyid Ridha, Syukri Afandi al-Alusi al-Baghdadi,Abdul Qadir at-Tilimsani).

Membaca tulisan KH. Muhammad Faqih berjudul An-Nushush al-Islamiyyah fi Raddi ‘ala al-Madzahib al-Wahhabiyyah”.mengingatkan kita pada tulisan KH. Nadjih Ahjad berjudul Ta’tsirah kitabal-Tauhid.fi al-Harakat al-Ishlahiyyah al-Diniyah bi Indonesia“ bahwa para pengasuh pondok pesantren ini (Maskumambang) dulunya termasuk lawan-lawan keras dari wahabi yang menyatakan bahwa aliran wahabi adalah golongan yang menyeleweng dari agama serta keluar dari golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta menyesatkan ummat Islam selain beliau sendiri adalah sesat, bahwa ia tidak senang kepada Rasulullah Saw, kurang menghargai para wali, meremehkan syi’ar-syi’ar agama serta segala kedustaan lainnya. Lanjut beliau, Hal ini tidak mengherankan disebabkan mereka itu belum mendapatkan informasi tentang gerakan wahabi, selain yang dihembuskan oleh lawan-lawan gerakan ini yang terdiri dari orang-orang yang mengaku berilmu, para pengikut syarif-syarif Hijaz yang telah menulis kitab-kitab yang mereka penuhi dengan kedustaan-kedustaan, kabar-kabar palsu serta kisah-kisah hayalan yang sangat jahat untuk gerakan ini”.

Pada tahun 1937 M/1353 H KH. Mohammad Faqih berpulang ke rahmatullah dalam usia 80 tahun dengan meninggalkan pesantren yang menggunakan sistem tradisional dan berfaham syafi’iyyah,atau yang sering mereka sebut dengan istilah faham Ahlussunnah Waljamaah, Sebelum berpulang ke rahmatullah, beliau berwasiat kepada KH. Ammar Faqih untuk mengurus pesantren.
KH. Ammar Faqih
K.H. Ammar Faqih lahir di kampung Maskumambang pada tanggal 8 Desember 1902 M. Beliau putra keempat K.H.Muhammad Faqih bin K.H. Abdul Djabbar. Beliau belajar ilmu agama langsung kepada ayahnya. Pada usia 23 tahun (tahun 1925) beliausudah hafal al-Qur’an dengan masa belajar tujuh bulanSatu tahun kemudian, tahun 1926 beliau menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekah selama dua tahun untuk memperdalam ilmu agama Islam.Selama berada di Mekkah beliau mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh gerakan wahabi. Beliau mendapatkan materi yang sebenarnya dari gerakan ini serta prinsip-prinsipnya, sehingga beliau sadar betul effect dari berita dusta yang selalu dipropagandakan dalam melawan gerakan ini. Beliaupun yakin bahwa kebanyakan ulama Indonesia telah menjadi korban kedustaan.

Sekembalinya dari Mekah dan Madinah (1928), beliau belajar ilmu falaq kepada KH. Mansur di Madrasah Falakiyah Jakarta. Pada tahun yang sama, beliau diangkat sebagai pegawai Kantor Urusan Agama di Kecamatan Karangbinangun Lamongan. Sebelas tahun kemudian, (1942) beliau diangkat menjadi Kepala KUA Karangbinangun. Pengangkatan tersebut dilakukan oleh Jepang dengan maksud untuk mendapat dukungan dari ulama dalam rangka menghadapi musuh-musuh Jepang. Pada tahun 1943 beliaubersama 60 kyai mengikuti latihan yang diselenggarakan langsung oleh Shumubu (Kementerian Agama masa pendudukan Jepang).

Meskipun demikian, pada masa pendudukan Jepang KH. Ammar Faqih pernah ditahan oleh tentara Jepang selama beberapa bulan karena pandangan beliau yang menyatakan bahwa Jepang adalah kafir sehingga aturan dan perintahnya tidak boleh dipatuhi. Kejadian itu sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran di Pesantren Maskumambang.Setelah beliau dilepaskan dari penjara, proses pembelajaran kembali normal, walaupun kegiatan di Pesantren Maskumambang masih diawasi pemerintah pendudukan Jepang.

Demikian pula halnya pada masa kolonialisme Belanda. Pada masa itu, KH. Ammar Faqih berkonsentrasi melawan kolonialisme Belanda, dan menjadikan Pesantren Maskumambang sebagai markas para pejuang, terutama setelah pertahanan di daerah Lamongan, Gresik, dan sebagian Surabaya lemah. Sejak sebelum Indonesia Merdeka, beliau sudah aktif dalam kegiatan da’wah Islam. Setelah Indonesia merdeka, seiring dengan dikeluarkannya maklumat pemerintah tentang kebebasan mendirikan partai politik (1946), beliaupun ikut aktif dalam Partai Masyumi. Dalam kepengurusan Partai Masyumi beliau pernah menjadi pimpinan anak cabang Partai Masyumi Kecamatan Dukun.Pada tahun 1959 terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Surabaya (sekarang Kabupaten Gresik).

Selanjutnya ditunjuk menjadi anggota Majelis Syuro Masyumi Pusat dan pernah menjadi anggota DPR RI dari Masyumi. Setelah Masyumi pecah, diawali dengan keluarnya PSSI pada Juli 1947 dan diikuti dengan keluarnya NU sebagai anggota istimewa Masyumi pada tahun 1952, KH. Ammar Faqih mengundurkan diri dari Masyumi karena beliau merasa tidak cocok aktif di Masyumi, karena menurut beliau Ummat Islam semestinya bersatu, bukan bercerai berai. Bagi KH.

Ammar Faqih, pecahnya Masyumi merefleksikan perpecahan ummat Islam karena pada kesepakatan antara tokoh-tokoh Islam pada November 1945 ditetapkan bahwa Masyumi merupakan satu-satunya partai ummat Islam, dan Masyumilah yang memperjuangkan kepentingan ummat Islam. Setelah keluar dari Masyumi, beliau aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Beliau pernah menjabat ketua cabang Muhammadiyah Dukun. Melihat banyaknya perpecahan, beliau menulis wasiat :

دَعُوْا شِيَعًا شَتَّى تُشَتِّتُ شَمْلَكُمْ دَعُوْا بِدَعًا يُخْشَى بِهَا مَا يَهُوْلُ
دَعُوْا كُلَّ بِدْعَةٍ دَعُوْا كُلَّ شِيْعَةٍ إِلَى مِلَّةٍ قَدْ كَانَ فِيْهَا الرَّسُوْلُ
تَصِيْرُوْا بِعَوْنِ اللهِ مِنْ أَهْلِ سُنَّةٍ يُوْاصِيْ عَلَيْهَا أَنْ يَعَضَّ اْلعَقُوْلُ

Tinggalkanlah sikap bercerai berai
Yang akan memporak-pondakan kesatuan kamu
Tinggalkanlah perbuatan bid’ah
Yang akan mendatangkan sesuatu yang sangat menakutkan
Tinggalkanlah setiap bid’ah
Tinggalkanlah setiap perpecahan
Kembali kepada agama yang Rasul berada didalamnya
Niscaya dengan pertolongan Allah
Kamu tergolong pengikut sunnah
Yang selalu dipesankan untuk dijadikan pegangan yang berakal

Pada masa kepemimpinan KH. Ammar Faqih, Maskumambang menjadi pusat penyebaran gerakan reformasi dan gerakan salafiyah, yakni gerakan yang mengajak ke arah perbaikan di bidang aqidah serta memurnikan syari’at dari segala bid’ah, khurafat serta sisa-sisa animisme yang telah merusak syari’at dan mengajak untuk menolak segala taqlid buta dan fanatik madzhab, mengajak kembali ke sumber murni agama, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perubahan faham keagamaan dimulai dengan mengganti kitab pegangan santri dalam bidang aqidah, dari kitab Aqidah al-Awwam diganti kitab karangan beliau berjudul Tuhfatul ummah fil ‘aqaaid wa raddi mafaasid. Beliau tidak menggantinya dengan kitab al-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahab, karena alasan sosiologis, yakni adanya anggapan negatif di kalangan masyarakat dan tokoh-tokoh ulama terhadap para tokoh Wahabi. Adapun pelajaran Fiqih, tetap menggunakan kitab-kitab yang dipergunakan KH. Muhammad Faqih. Dengan demikian, menurut penuturan santri KH. Ammar Faqih, pada masa awal kepemimpinan beliau tradisi yang ada masih tetap dipertahankan.

Selain memimpin pesantren, beliau mencurahkan fikiran untuk kemajuan ummat Islam dalam bentuk tulisan. Salah satu tulisan beliau berjudul Tuhfatul ummah fil ‘aqaaid wa raddi mafaasid, diterbitkan di Mesir dengan disertai sambutan dari ulama-ulama Mesir. Tuhfatul ummah fil ‘aqaaid wa raddi mafaasid terdiri atas empat bab. Bab pertama membahas pengertian Tauhid dan makna kalimat tahlil. Menurut beliau, Tauhid secara etimologis adalah ketentuan bahwa sesuatu itu satu. Sedangkan menurut terminologi syari’ah, tauhid berarti ketentuan bahwa dzat yang senantiasa Esa dan tidak ada yang lain bersama-Nya, baik dalam dzat, sifat atau pebuatan. Kalimat tahlil, La ilaha illa Allah, beliau artikan sebagai penetapan tauhid dan pengingkaran terhadap segala yang dapat menyekutukan-Nya.

Bab dua menguraikan hukum tauhid dan kerasulan Muhammad. Tauhid dalam bab ini dijelaskan sebagai inti ajaran agama yang mengandung konsekwensi setiap amal akan diterima jika didasari tauhid. Bab tiga menjelaskan seputar aqidah yang benar dan yang rusak, perdebatan ulama dalam bidang ilmu kalam, masalah Ahlussunnah Waljama’ah, dan masalah pentakwilan ayat-ayat mutasyabihat. Dalam aspek aqidah, KH. Ammar Faqih lebih banyak menekankan pada masalah yang berhubungan dengan bid’ah. Menurut beliau, kebiasaan membakar kemenyan, mendirikan bangunan di makam, menyarungkan kain di tempat-tempat keramat, semedi, ziarah ke makam para wali dengan mengharapkan sesuatu, dan amalan-amalan yang dianggap tradisional supaya diberantas, karena tidak sesuai dengan kebiasaan ulama salaf dan bukan dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Bab empat berisi ringkasan tentang ilmu kalam dan sifat-sifat Allah serta Rasul.

Beberapa buku karya beliau yang lain adalah Falsafah Ketuhanan, Shilatul Ummah, Hidayatul Ummah, Tahdidu Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Ar Raddu wan Nawadir, Al-Fashlul Mubin, Nurul Islam, Al-Hujjatul Balighah.
Falsafah Ketuhanan merupakan sebuah buku kecil berbahasa Indonesia. Buku ini terbagi dalam dua bagian besar; bagian pertama membicarakan masalah ketuhanan, dan bagian kedua membahas keterangan singkat mengenai kebenaran Islam. Dalam buku ini ditulis bahwa ketuhanan didasarkan atas keyakinan akan kebesaran Allah. Sementara itu, tidak berketuhanan didasarkan atas pertimbangan rasional yang berangkat dari hukum sebab akibat, bahwa segala sesuatu terjadi karena sebabnya. Dua kelompok, yaitu kelompok berketuhanan dan tidak berketuhanan, pada dasarnya sepakat bahwa hukum sebab akibat berlaku di alam ini. Hanya saja, kelompok berketuhanan mengakui adanya sebab awal, yaitu Tuhan.

KH. Ammar Faqih membagi sebab menjadi tiga : (1) sebab tabiat (2) sebab illat (3) sebab ikhtiar. Pada bagian lain beliau menjelaskan bahwa ketuhanan ditemukan melalui hujjah, baik hujjah yang berasal dari wahyu (hujjah naqliyah) maupun hujjah yang berasal dari akal fikiran (hujjah aqliyah). Hujjah aqliyah terdiri atas : (1) jadal (2) khatabah (3) syi’r (4) syafsathah (5) Burhan. Selanutnya, beliau membagi burhan menjadi enam macam, yaitu ; awwaliyat, musyahadat, mujarrabat, mutawatirah, hadatsiyat, dan mahsusat. Melalui pembuktian burhan, KH. Ammar Faqih menyimpulkan bahwa Tuhan bukan jism, Tuhan berdiri dengan diri sendiri, Tuhan adalah satu tidak memiliki sekutu, Tuhan Maha Kuasa, Maha Menentukan segala kemungkinan alam dan Maha Mengetahui kemungkinan alam, Tuhan bersifat sempurna, mustahil memiliki cela, dan wujud alam dan isinya bukanlah disebabkan oleh yang lain, melainkan karena ketentuan Allah.  Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Pendawa pada tahun 1955. Menilik tahun penerbitan buku tersebut, diduga bahwa hasil pemikiran tersebut adalah mempunyai kaitan erat dengan dasar Negara.

Shilatul Ummah, sebuah kitab yang masih dalam bentuk manuskrip yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa (Arab Pegon) berisi uraian tentang sebab-sebab perpecahan yang menimpa ummat Islam. Menurut beliau penyebab perpecahan yang terjadi di kalangan ummat Islam adalah karena ummat Islam kurang mematuhi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengabaikan pemikiran ulama. Buku tersebut diterbitkan oleh Balai Kursus Kilat, tanggal 19 Rajab 1379 H. atau 18 Januari 1960 M.

Hidayatul Ummah yang oleh K.H. Adenan Nur dan K.H. Bey Arifin diterjemahkan dengan judul Jadilah Mu’min Sejati berisi uraian tentang pokok-pokok keimanan kepada Allah SWT.Pada buku ini dijelaskan bahwa seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, orang itu dituntut untuk menyatakan kesanggupan menghapus kekufuran yang pernah dilakukannya.

Tahdidu Ahli Sunnah wal Jamaah, sebuah buku berbahasa Arab ditulis dalam rangka memberi jawaban pertanyaan tertulis dari salah seorang guru agama yang pada pokoknya mengharapkan jawaban tentang definisi ahli sunnah wal jamaah dan perihal perlunya bermadzhab bagi orang yang belum sampai pada tingkat ijtihad.Menurut KH. Ammar Faqih, ahlussunnah waljama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab Allah dan hadits-hadits shahih. Menurut beliau, ulama madzhab empat termasuk Ahlussunnah Waljama’ah, karena menggunakan al-Qur’an dan al-Hadits. Adapun masalah bermadzhab, KH. Ammar Faqih berpendapat bahwa seseorang tidak harus taklid, tetapi setidak-tidaknya melakukan ittiba’, yaitu mengikuti pendapat orang dengan mengetahui dasarnya. Menurut beliau, tindakan talfiq tidak dilarang dalam al-Qur’an, selama memilih pendapat ulama’ madzhab itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Buku ini selesai ditulis pada pertengahan bulan Jumadil Ula tahun 1381 H dan dimuat secara berturut-turut pada Majalah Al Muslimun dari edisi nomor 110 sampai 117.Penerbitan ini memicu kontra ulama dan menyebut KH. Ammar Faqih keluar dari Ahlussunnah Waljama’ah, karena Faham Ahlussunnah Waljama’ah menurut KH. Hasyim Asy’ari adalah faham yang berpegang teguh pada tradisi sebagai berikut : (1) Dalam soal-soal tauhid menganut ajaran-ajaran imam Abu Hassan al-Asy’ari dan imam Abu Mansur al-Maturidi, (2) Dalam bidang hukum Islam, menganut ajaran-ajaran dari salah satu madzhab empat; Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, atau Hanbali, (3) Dalam bidang tasawwuf menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim al-Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali.

Ar Radd wa al- Nawadir, ditulis KH. Ammar Faqih dalam bahasa Arab bercampur bahasa Jawa dengan tulisan Arab Melayu. Buku ini merupakan jawaban terhadap surat yang ditulis KH. Hasyim Asy’ari dalam bahasa Jawa, berkaitan dengan perbedaan pendapat beliau berdua tentang penyelenggaraan Sholat Jum’at di dua masjid dalam satu kampung. KH. Ammar Faqih boleh, sedangkan KH. Hasyim Asy’ari menyatakan tidak boleh. Buku ini berisi pendapat dan sikap KH. Ammar Faqih terhadap kesepakatan yang ditandatangani pada tanggal 14 Rabiul Tsani 1353 H di kediaman Abdullah bin Faqih, yang menyatakan tidak boleh sholat Jum’at berbilang, di Desa Dukun dan Sembungan.

Pada masa kepemimpinan KH. Ammar Faqih jalannya pendidikan di pesantren Maskumambang sempat terganggu, karena semua aktivitas pesantren dicurigai dan diawasi oleh penjajah. Hal ini dapat dimaklumi karena pada masa itu kompleks pesantren Maskumambang digunakan sebagai tempat latihan dan markas para pejuang yang mundur dari daerah Lamongan, Gresik dan Surabaya.

Melihat keadaan pesantren yang memprihatinkan ini, pada tahun 1958, KH. Nadjih Ahjad, salah seorang putra tiri, menantu dan sekaligus santri beliau, yang sejak tahun 1955 sudah ikut membantu KH. Ammar Faqih untuk mengelola pesantren, mencetuskan gagasan pembaruan terhadap sistem kelembagaan pesantren. KH. Nadjih Ahjad menawarkan kepemimpinan kolektif pesantren untuk menggantikan kepemimpinan individual kiai. Kepemimpinan kolektif yang ditawarkan diwujudkan dalam bentuk yayasan. Gagasan ini disetujui oleh KH. Ammar Faqih. Di samping itu, KH. Nadjih Ahjad juga mengadakan sistem pendidikan klasikal berbentuk Madrasah Banat (Madrasah putri).

Perubahan kelembagaan pesantren ini tidak menimbulkan ketegangan, karena KH. Ammar sebagai mertua KH. Nadjih Ahjad yang memiliki kewenangan menentukan di pesantren menyetujui gagasan pembaruan ini. Artinya, antara KH. Ammar Faqih yang sebenarnya masih mengendalikan pesantren dan KH. Nadjih Ahjad yang diserahi kepercayaan mengurus pesantren sepakat untuk mendirikan yayasan. Dengan berdirinya yayasan, maka sejak tanggal 4 Maret 1958, pesantren Maskumambang dikelola oleh Yayasan Kebangkitan Ummat Islam (YKUI) dengan Akte Notaris Gusti Djohan, No. 27 /1958. Status kepemilikan pesantrenpun beralih dari milik pribadi menjadi milik lembaga. Artinya, keluarga pesantren tidak memiliki akses sewenang-wenang terhadap pesantren, termasuk tidak memiliki hak untuk mewarisi aset dan kekayaan milik pesantren yang diatasnamakan yayasan. Kekayaan pesantren tidak lagi menjadi milik perseorangan, tetapi milik kolektif ummat. Sejak YKUI dibentuk, mulai dilakukan pemisahan secara ketat antara aset pesantren dan aset keluarga pesantren, sehingga memungkinkan pengelolaan aset dan kekayaan pesantren secara transparan dan akuntabel.

Pada hari Selasa malam Rabu tanggal 25 Agustus 1965 M KH. Ammar Faqih wafat dan kepemimpinan pesantren diserahkan kepada menantu beliau, KH. Nadjih Ahjad.

Masa KH. Nadjih Ahjad
KH. Nadjih Ahjad dilahirkan di Blimbing Paciran Lamongan pada tanggal 19 Maret 1936 dari pasangan suami istri KH.Mohammad Ahjad dengan Ning Suhandari. Beliau masih kerabat KH.Abdul Djabbar, karena ayah beliau, KH. Muhammad Ahjad, adalah cicit Ngapiyani, adik kandung KH.Abdul Djabbar. Sejak berusia 7 tahun, KH.Nadjih Ahjad menjadi yatim, dan hanya tinggal bersama ibu beliau, sampai ibu beliau pindah ke Maskumambang pada tahun 1948, karena menikah dengan KH. Amar Faqih. Mulai saat itu beliau banyak memperoleh pendidikan dasar agama langsung dari KH.Amar Faqih yang menjadi ayah tiri beliau.Bahkan, sebagaimana diakui sendiri oleh KH. Nadjih Ahjad, beliau tidak mengaji kepada kyai lain kecuali kepada KH. Ammar Faqih.

Di bawah asuhan KH. Amar inilah beliau banyak mempelajari Tauhid, Fiqih dan Bahasa Arab. Sejak masih di bawah asuhan KH. Amar Faqih, KH. Nadjih Ahjad sudah Nampak memiliki tipe manusia pembelajar yang haus akan ilmu.Semua ilmu agama Islam yang ada Beliau pelajari secara otodidak. Sampai-sampai KH. Amar Faqih menjadikan beliau sebagai teman berfikir. KH. Nadjih Ahjad identik dengan buku dan khazanah ilmu. Wajar bila setelah dewasa, beliau termasuk sosok manusia multi dimensi. Beliau tidak hanya seorang Ulama, namun pada beliau melekat beragam dimensi lainnya.Beliau seorang intelektual par excellent yang menguasai ilmu-ilmu keIslaman. Beliau memahami agama Islam lebih holistik dan komprehensif. Agama tidak hanya difahami sebagai persoalan keahiratan, tetapi juga bagaimana mengatur kemaslahatan dunia.

Beliau menikah dengan salah seorang putri KH.Amar Faqih bernama Dlohwah. Dengan Dhohwah beliau masih satu keturunan, yaitu keturunan Kadiyun. Jika diuraikan silsilah keturunan KH. Nadjih Ahjad dan Dhohwah adalah sebagai berikut :
Nadjih bin Ahjad bin.Mutmainah binti Nyai Ngapiyani/Nyai Utami/Nyai Geboyo binti Kadiyun.Dhohwah binti Amar bin Faqih bin Abdul Jabbar bin Kadiyun.
Dari pernikahan ini, beliau dikarunia 1 orang putra, yaitu Abdul Ilah Nadjih dan 3 orang putri yaitu Diflah Nadjih, Ifsantin Nadjih, dan Tafhamin Nadjih

Setelah mendapat amanat dari KH. Ammar Faqih untuk memimpin pesantren, KH. Nadjih Ahjad berusaha untuk menghidupkan kembali pesantren yang nyaris mati, dengan mengambil langkah-langkah strategis, antara lain :
1. Da’wah ke masyarakat luas tentang Tauhid shohih.
Keseriusan KH. Nadjih Ahjad untuk memperkenalkan tauhid shohih didasarkan pada pendapat beliau bahwa ketauhidan tidak boleh dicampuri dengan sesuatu yang membatalkan ketauhidan itu, yakni perbuatan syirik. Menurut beliau, faham keagamaan yang diterapkan di Maskumambang adalah faham al-Muslimun Qabla al-Tafarruq, artinya, faham yang diterapkan di Maskumambang adalah faham kaum muslimin di masa nabi dan sahabat, ketika belum mengalami perpecahan. Dengan mengembangkan faham tersebut, Maskumambang mengedepankan toleransi dalam perbedaan dan menggunakan sumber utama al-Qur’an dan al-Hadits dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perbedaan pendapat yang ada tidak sampai mengakibatkan perpecahan.

2. Menggali sumber dana pesantren dengan membeli tambak.

3. Menjalin komunikasi dengan Ormas tingkat Kabupaten, Provinsi dan pusat, termasuk dengan Masyumi dan Parlemen.

4. Mendirikan Institusi-institusi yang diperlukan oleh santri dan masyarakat, terdiri dari Kopontren, IPPPM, Perpustakaan, Work Shop, UKS, dan Gugus Depan Pramuka, dan Pengajian Takhassus,

5. Menata manajemen pesantren, melalui kebijakan :
1. Restrukturisasi YKUI yang telah beliau dirikan pada tahun1958.
2. Mengangkat Drs.H. Fatihuddin Munawir M.Ag sebagai staf kemadrasahan dengan dua anggota, yaitu H.Khoiri Adlham sebagai staf Pendidikan Non Formal dan H. Sjihabulmillah sebagai Staf Tata Usaha.
Selain memimpin pesantren, KH. Nadjih Ahjad juga memberikan pengajian rutin yang diikuti oleh masyarakat umum dan pengajian khusus untuk para guru dan muballigh di wilayah Kecamatan Dukun dan sekitarnya.
Pengajian rutin untuk masyarakat umum selain dilaksanakan satu bulan sekali di pesantren, diikuti para tokoh masyarakat wilayah Gresik dan Lamongan, juga dilaksanakan setiap malam Wage di Madrasah Sembungan..Adapun pengajian khusus (biasa disebut takhassus) dilaksanakan di aula Pondok Pesantren Maskumambang setiap hari Jum’at dari pukul 15.00 – 17.00.

Beliau juga aktif melakukan da’wah/amar bil ma’ruf nahi anil munkar dalam rangka mengembangkan faham pembaruan (tajdid) serta memberantas syirik, bid’ah dan khurafat melalui tulisan. Tulisan-tulisan beliau yang sudah diterbitkan di antaranya:

Ta’tsirah kitab al-Tauhid.fi al-Harakat al-Ishlahiyyah al-Diniyah bi Indonesia. Kitab yang berasal darikertas kerjaini beliau susun atas permintaan Muhammad Natsir (Ketua Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia). untuk disampaikan dalam acara pekan syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang diselenggarakan oleh Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud di Riyadl pada Minggu terakhir tahun 1400 H.Buku ini menguraikan pengaruh ajaran faham Wahabi di kalangan ulama dan pemikir modern muslim Indonesia. Menurut KH. Nadjih Ahjad, para ulama dan pemikir modernis muslim Indonesia kebanyakan dipengaruhi oleh faham Wahabi. Mereka terpengaruh dengan ajaran ini ketika pergi haji sambil menuntut ilmu di Saudi Arabiyah dan bersentuhan langsung dengan ajaran wahabi.Di Indonesia, pengaruh terhadap masyarakat umum terjadi melalui majalah-majalaj yang didirikan oleh para tokoh pembaharu, seperti KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Ahmad Syorkati (pendiri al-Irsyad).

Iman Jalan menuju Hidup Sukses. Buku ini menjelaskan tata-cara mencapai kehidupan yang sukses.Misalnya, memanfaatkan sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya anugerah Tuhan, seperti anugerah jasmani, rohani, wahyu yang disampaikan lewat Rasul, dan alam semesta; mempercayai, meyakini, atau beriman kepada takdir Tuhan bahwa Tuhan mempunyai rencana yang pasti dan terperinci atas segala makhluk-Nya, termasuk manusia; membuang su’udhan billah (buruk sangka) dan menggantinya dengan husnudhon billah (baik sangka kepada Allah), yaitu dengan cara meneliti peristiwa-peristiwa lalu yang dianggap mengecewakan, dan memetik pelajaran, hikmah dari kekecewaan masa lalu, karena di antara sekian banyak kemalangan,masih terdapat nikmat yang diberikan Allah kepada manusia dengan jumlah tidak terhitung; tawakkal yang benar dan do’a yang tulus dalam menghindari thiyaroh atau tathoyyur ( merasa dalam kesialan, kegagalan, ketidak beruntungan); dan terakhir adalah aplikasi program hidup sukses, yaitu menetapkan sasaran yang jelas, mental yang kokoh, menentukan langkah-langkah dengan berdo’a kepada Allah, mengatasi rongrongan yang merusak, dengan iman dan selebihnya tawakkal kepada Allah.

At-Tibyan fi ahkamil ‘Amaliyah.Kitab ini terdiri dari tiga jilid, membahas Fiqih, meliputi thaharoh, shalat, puasa (jilid 1), zakat, haji dan umrah, masalah mu’amalat lainnya (jilid 2), pernikahan, terputusnya hubungan suami istri, iddah dan ruju’, pidana dan perdata (jilid 3).

At-Tibyan fil ‘Aqaid. Kitab yang terdiri dari tiga jilid ini membahas Agama Islam, Iman, Islam dan Ihsan, Rukun Iman, Rukun Islam, kepercayaan-kepercayaan dalam Islam, hukum akal, arti iman kepada Allah, sifat-sifat Allah,beriman kepada para rasul (jilid 1), iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada hari akhir, iman kepada qodha dan Qodar (jilid 2), Tauhid, syirik, beberapa perbuatan yang menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.(jilid 3).

TerjemahAl-Jami’ al- Shaghir min Hadits al-bashir al-Nadzir karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-suyuthi (w. 1911H).Kitab yang merupakan kumpulan hadits ini beliau terjemahkan seecara berangsur-angsur menjadi lima jilid dari tahun 1983 sampai 1996.Metode yang beliau pergunakan dalam menterjemahkan masih berpegang pada penerjemahan kitab semula, yakni diupayakan secara harfiah, dengan penjelasan dalam tanda kurung atau catatan kaki bila ada hadits-hadits yang masih kurang jelas maksudnya.
Hajjatur Rasul, membahas tuntunan manasik haji sesuai sunnah.

Kitab Jenazah, menguraikan tatacaramengurus janazah, meliputi cara menyantuni orang sakit menjelang wafat, mengurusnya setelah wafat, memandikannya, mengafaninya, menshalatinya, membawanya ke kubur, menguburnya dan lain-lain menurut sunnah Rasulullah SAW.

Al Bayan li Hidayatish shibyan, menjelaskan tentang kaidah-kaidah tata cara membaca al-Qur’an. Kitab ini diperuntukkan santri pemula yang baru memulai belajar ilmu tajwid. Partai Lintas Agama dalam Perspektif Islam, membahas masalah hubungan perjuangan politik kepartaian. Menurut beliau, kerjasama antara orang Islam dan non Muslim bisa terjadi dalam dua bentuk, yaitu : Pertama, kerjasama antara satu partai yang hanya beranggotakan orang-oramg Muslim di satu fihak, dengan nonmuslim, baik di partai maupun perorangan di fihak lain, untuk memperjuangkan atau memelihara kepentingan bersama. Kerjasama bentuk ini tidak dilarang oleh Islam dengan syarat kerjasama itu tidak membahayakan atau merugikan kepentingan Islam dan kaum muslimin.Kedua, kerjasama antara orang-orang muslim dan orang-orang nonmuslim untuk sama-sama menjadi anggota satu partai politik lintas agama. Kerjasama bentuk ini jelas membahayakan atau setidaknya merugikan kepentingan Islam dan kaum muslimin serta tidak sesuai dengan contoh Rasulullah SAW, dan oleh karena itu termasuk muwaalatu ghairil muslim yang terlarang menurut Islam.

Terjemah Shahih Jami’is Shaghir wa Ziyadatih, karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani diteliti kembali dan dikelompokkan menjadi dua kelompok besar. Kitab yang diterjemahkan KH. Nadjih Ahjad ini merupakan kelompok pertama yang menghimpun hadits-hadits yang berderajat shahih dan hasan. Oleh beliau, kitab ini diterjemahkan menjadi 3 Jilid, diterbitkan oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi, antara lain;
• Ketua Partai Masyumi Kabupaten Gresik
• Anggota DPRD Kabupaten Gresik
• Ketua Wilayah Partai Bulan Bintang Provinsi Jawa Timur
• Anggota DPR/MPR RI
• Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Timur
• Penasehat Yayasan Dana Sosial Al Falah ,
• Anggota Majelis Fatwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
• Wakil Ketua Dewan Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat.

Perkembangan Pesantren Pasca Pengangkatan Staf Pemangku Pesantren.
Dengan pengangkatan staf pemangku pesantren (tahun 1986), maka tugas pengembangan pesantren beliau percayakan kepada Ustadz Drs.H. Fatihuddin Munawir, M.Ag. Setelah mendapat amanat untuk mengembangkan pesantren, beliau mengambil beberapa langkah strategis antara lain :

1. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat
Untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap Pesantren Maskumambang, staf kemadrasahan mengambil langkah-langkah inovatif, antara lain;
1). Mengkongkritkan rencana alumni mendirikan perguruan tinggidengan melakukan koordinasi, mulai dari membentuk panitia penerimaan mahasiswa baru, menentukan pimpinan perguruan tinggi dan calon dosen, mengurus perizinan ke KOPERTAIS IV, menyiapkan kurikulum, serta mempersiapkan fasilitas-fasilitas lain yang dibutuhkan. Dengan pertolongan Allah, berdirilah dua fakultas, yakni fakultas Tarbiyah,dan Fakultas Syari’ah yang pembukaannya secara resmi ditandai dengan kuliah perdana pada tanggal 15 September 1986, dihadiri oleh ketua Kopertais Wilayah IV Surabaya (diwakili oleh Drs.S.Bukhari,SH), Ketua MUI Jawa Timur dan Ketua Dewan Penyantun, KH. Misbach, Bupati Gresik dan para tokoh masyarakat.Karena perkulihan masih dilaksanakan malam hari dengan menempati gedung Madrasah aliyah. Setelah kegiatan perkuliahan lancar dan memperoleh status terdaftar dengan SK Menteri Agama RI No. 81 Tahun 1990,maka pada tahun 1996dibangun kampus 3 lantai 27 kelas setelah melakukan urugan sedalam ± 5 m dari o jalan. Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan oleh Menteri Agama RI dr. Tarmizi Taher dan Menteri Keuangan RI, Dr. H. Mar’ie Muhammad M.Si.
2. Mendirikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) JAMAAH MASKUMAMBANG (JM),
3). Mendirikan Baitul Maal wat Tamwil (BMT),
4). Mengoptimalkan pengelolaan DP3M.(Dana Pendukung Pondok
Pesantren Maskumambang).
5). Menetapkan Visi-Misi Pesantren
6). Menerbitkan buku pegangan murid terdiri atas
– At-Tibyan fi ahkamil ‘Amaliyah, untuk pelajaran Fiqih
– At-Tibyan fil ‘Aqaid, untuk pelajaran Tauhid
– Al Bayan li Hidayatish shibyan
(ketiga buku tersebut ditulis oleh KH. Nadjih Ahjad)
– Mudzakaroh Ushul Fiqih, oleh Ustadz Drs.H.Fatihuddin
Munawwir., M.Ag
7) Pembebasan tanah sekitar pesantren, seluas 70.000 M2.
8). Pembangunan sarana prasarana pembelajaran
1) Menyediakan 4 (empat) kantor untuk Kepala dan Guru
Madrasah Ibtidaiyah putri, Madrasah Ibtidaiyah putra,
Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.
2) Membangun gedung Madrasah Tsanawiyah putra. Gedung ini berlokasi di depan masjid Maskumambang, yang semula masih berupa sungai tempat mandi santri.
3) Membangun lantai 2 gedung Madrasah Ibtidaiyah putra.
4) Membongkar gedung Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliah putri. Gedung dalam kompleks pondok putri yang semula hanya terdiri dari (8) delapan kelas sehingga harus dipakai sekolah bergantian pagi dan sore, beliau bongkar dan diganti dengan gedung baru sejumlah (35) tiga puluh lima kelas dan satu aula putri.
5) Merenovasi asrama putri dari plesteran menjadi keramik
6) Membangun satu unit gedung baru dua lantai untuk asrama putri beserta puluhan kamar mandi dan tempat cuci.
7) Membangun dapur serta pagar keliling pondok putri
8) Menambah 1 unit gedung untuk pondok putra
9) Mendirikan SMK Maskumambang 1 (STM) dan SMK Maskumambang 2 (SMEA).
10) Membangun sarana pendukung pembelajaran (lab komputer,
lab IPA, Perpustakaan dan Lab SMK). Dengan fasilitas lab
komputer yang memadai maka mulai tahun pelajarn
2015/2016 MTs dan MA melaksanakan ujian nasional CBT.
11) Melakukan pembebasan tanah dan membangun gedung banin terpadu 3 lantai 24 kelas untuk Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah
12) Membangun apartemen 2 lantai untuk santri putra
13) Membangun kantor pengurus yayasan, ruang rapat (lantai 1) dan aula putra (lantai 2).
14) Membangun gedung banat terpadu 4 lantai, sudah terselesaikan 1 lantai, dilanjutkan 2016
15) Pembangunan tiga lab SMK.
16) Pembebasan 3 petak tanah sebelah timur untuk pengembangan tahap berikutnya
17) Perluasan masjid sesuai kebutuhan santri.
18) Membangun tempat parkir murid putra, murid putri dan guru secara terpisah
19) Mendirikan POSKESTREN, kerjasama dengan IDG Gresik
20) Pengadaan mobil operasional berikut garasi mobil;
a. Mobil Yayasan : 1 unit Innova
b. Mobil Kampus : 1 unit Panter
c. Mobil Aliyah : 1 unit Avansa
d. Mobil SMK 1 ; 1 unit mobil bak
e. Mobil Tsanawiyah : 1 unit Avansa
2) Meningkatkan kualitas pelayanan dan Pendidikan
2) Mendirikan lembaga pelayanan santri (BTM, Poliklinik, Payment Point Bank Syariah Mandiri).
3) Mendirikan lembaga ekonomi pesantren (CV/PT Maskumambang).
4) Mendirikan lembaga Penjamin Mutu Pendidikan
5) Menyempurnakan sistem dengan memperkenalkan sistem talaqi dalam kagiatan tasmi’ al-Qur’an dan muroja’ah al-Qur’an. Juga intensifikasi pendidikan non formal yang dilaksanakan dalam asrama untuk menjaga keseimbangan antara aspek keilmuan dan aspek amaliyah (praktek). Dengan demikian maka lingkup pembinaan murid menjadi terpadu, antara pembinaan di sekolah, di asrama dan di keluarga
6) Restrukturisasi Pimpinan Sekolah yang sudah habis masa jabatan sesuai dengan aturan Yayasan
7) Pelatihan Managemen serta kepemimpinan bagi Pimpinan Madrasah/Sekolah
8) Penyusunan kurikulum Madrasah/Sekolah yang fokus pada :
Meteri Pesantren ( Tauhid, Fiqih, Bahasa Arab, Nahwu & Shorof, Ibadah ) Meteri UAN (MIPA,Bahasa) Materi Unggulan ( Tahfidz,muhadatasah,Conversition)
9) Mengefektifkan MGMP Kurikulum Pesantren & UN.
10) Membuka kelas exellent/Olimpiade MIPA dan Bahasa di MTs dan Madrasah Aliyah
11) Membangun Pendidikan Karakter ;
12) Pembuatan Manual Book Sistem Kendali Mutu Program MPI
13) Penyusunan Kurikulum Pembinaan / materi Halaqoh
14) Restrukturisasi dan penataan ulang Murobbi
15) Pembinaan dan Standarisasi Mutu Murobbi
16) Efektifitas tugas pokok dan fungsi Murobbi
17) Pemantapkan SMK maskumambang 2 sebagai sekolah banat dan hanya diasuh para Ustadzat.
18) Mengatur secara terpisah jalur masuk tamu / murid / guru pesantren laki laki dan perempuan.
19) Memperketat aturan etika dan sopan santun bagi Wali santri/ tamu.
20) Ustdz yang belum menikah tidak mengajar pada Murid putri
21) Merintis Managemen terpisah pengelolaan madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Putra & Putri
22) Mendirikan lembaga pengembangan kepribadian Muslim (MPDC)

3. Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga luar pesantren
antara lain :
a. Perguruan Tinggi unggulan untuk meningkatkan SDM tenaga kependidikan dan pendidik.
b. Dunia usaha, untuk mengetahui dan mempelajari perkembangan teknologi dunia usaha serta untuk magang dan bekerja bagi lulusan SMK, sehingga dapat menerima lebih dini tentang percepatan perkembangan ilmu yang dibutuhkan didunia usaha, agar cepat beradaptasi ketikabekerja.
c. Lembaga Da’wah : YDSF Surabaya
d. Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya
e. Ikatan Dokter Gigi Kabupaten Gresik dan Puskesmas Dukun

Drs. KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag
Drs. KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag lahir di Rembang tanggal 24 Februaru 1958 dari suami istri, Mbah Munawwir dan Mbah Azizah. Beliau adalah putra kelima dari dua belas bersaudara. Beliau memulai belajar agama di pesantren ayah beliau, kemudian melanjutkan ke Pesantren Kajen Pati Jawa Tengah, kemudian ke pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Setelah lulus Madrasah Aliyah, beliau melajutkan kuliah di Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sambil nyantri di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta.

Sejak masih nyantri di Jombang, beliau sudah aktif melakukan da’wah, utamanya saat liburan sekolah beliau tidak pulang, tetapi melakukan da’wah. Beliau berda’wah tidak hanya di Jawa tetapi sampai di Sumatera.Kegemaran beliau berda’wah berlanjut ketika beliau kembali ke yogyakarta, dengan menjadi aktivis Masjid Syuhada’ Yogyakarta dan menjadi musyrif asrama Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Pada tahun 1985 beliau menikah dengan Dra. Hj. Ifsantin Nadjih, putri ketiga KH. Nadjih Ahjad. Walaupun sudah menikah namun beliau masih aktif membina di asrama Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, sampai akhirnya harus pulang ke Maskumambang pada tahun 1986, atas permintaan H.M. Jahja Bahri/alm (Sekretaris YKUI) dan Sjihabulmillah (Wk. Sekretaris YKUI). Permintaan pengurus supaya Drs.KH. Fatihuddin Munawir M.Ag dan istri kembali ke Maskumambang mendapat respon positif dari KH. Nadjih Ahjad. Apalagi waktu itu beliau prihatin terhadap kelangsungan pesantren Maskumambang, karena tidak ada putra-putri beliau yang bertempat tinggal di Maskumambang, sementara beliau juga lebih banyak berada di luar Maskumambang. Menanggapi permintaan tersebut, Drs.KH. Fatihuddin Munawir M.Ag yang waktu itu bersama istri sedang menunggu penugasan sebagai calon hakim pengadilan agama, atas rekomendasi Mantan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Mukti Ali, bersedia kembali ke Maskumambang, karena ayah beliau, KH. Munawwir ternyata juga menghendaki agar beliau berkhidmat dan sekaligus berguru langsung kepada KH. Nadjih Ahjad.

Berbekal pengalaman selama di Masjid Syuhada’ dan Madrasah Mu’allimin, beliau aktif mendampingi KH. Nadjih mengasuh Pesantren Maskumambang.Sebagai pribadi yang memiliki pola kepemimpinan Visioner, KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag selalu menuliskan pokok-pokok pikiran beliau sebelum memulai bekerja. Dengan demikian maka para pimpinan lembaga di lingkungan Pesantren Maskumambang dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya berpedoman pada pokok-pokok pikiran yang beliau tulis dalam kertas kerja. Demikian juga halnya pola pembinaan santri. Materi pembinaan santri Maskumambang terangkum dalam tulisan beliau berjudul MUKMIN KARACTER BUILDING OF MASKUMAMBANG STUDENTS yang berisi penjelasan sikap santri Maskumambang berdasarkan Surat al-Hujurat. Materi yang terdapat pada buku tersebut, berasal dari tausiyah rutin pagi hari yang beliau sampaikan di Masjid Maskumambang. Selain itu beliau merangkum Ushul Fiqih berjudul Mudzakaroh Ushul Fiqih, sebagai pegangan wajib murid Madrasah Aliyah

Selain memimpin pesantren, beliau juga aktif melakukan da’wah pada masyarakat di sebagian wilayah Lamongan, Gresik dan Surabaya, baik melalui khutbah-khutbah, maupun ceramah-ceramah agama. Sebagaimana KH. Nadjih Ahjad, Drs. KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag juga pernah aktif di partai politik. Pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2004 beliau menjadi ketua Partai Bulan Bintang Kabupaten Gresik, sekaligus Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Gresik dari Partai Bulan Bintang. Di saat yang bersamaan, Kyai Nadjih menjadi anggota DPR Pusat dari partai yang sama, yakni Partai Bulan Bintang. Drs. KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag dan KH. Nadjih Ahjad optimis bahwa melalui Partai Bulan Bintang, Syari’at Islam dapat ditegakkan. Ternyata harapan untuk izzul Islam wal Muslimin melalui partai politik tidak terwujud, ditambah lagi dengan keadaan Pesantren Maskumambang yang semakin memprihatinkan, (santri mukim tinggal 10 santri) maka beliau tidak lagi aktif di partai politik. Beliau berdua kemudian aktif mengurus Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) , yang sejak awal memang telah diperjuangkan. Di Dewan Da’wah Islamiyah, KH. Nadjih Ahjad pernah menjadi pengurus dan Pembina Dewan Pimpinan Pusat, juga pernah menjabat sebagai Dewan Syuro DPW DDI Jawa Timur. Di Dewan Da’wah Kabupaten Gresik, Drs. KH. Fatihuddin Munawwir, M.Ag terpilih memegang amanah menjadi ketua. Allah menjadikan kedua hamba-Nya memiliki jalan hidup yang sama, walau dalam level yang berbeda.

Sebagai penerus KH. Nadjih Ahjad, beliau mengambil langkah-langkah strategis dalam mengembangkan pesantren, antara lain :
Penyempurnaan Struktur Yayasan dan Pelaksana Kegiatan Yayasan, Peningkatan Kualitas SDM, Keamanan dan Pelayanan, Pengawalan Kepribadian, dan Penambahan fasilitas Pendukung Pendidikan.