PONPES MASKUMAMBANG, GELAR PEMBINAAN GURU BERSAMA Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si.

Oleh Husni Mubarrok

“Menjadi guru itu jangan seolah-olah. Menjadi guru itu, harus berangkat dari sebuah niat yang dalam. Iya, niat menjadi guru. Niat yang tumbuh dan mengakar kuat jauh sebelum diangkat menjadi guru. Ibaratnya, sudah tertanam cita-cita sejak kecil, jauh sebelum profesi guru itu direngkuhnya.”

Demikian sedikit petikan yang disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si, anggota DPR RI yang sekaligus mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya di hadapan ratusan guru di Aula Putra Pondok Pesantren Maskumambang, (Sabtu, 13 Juli 2019) dalam acara yang bertajuk Pembinaan dan Pengembangan Guru Pondok Pesantren Maskumambang Dukun Gresik, dengan tema “Mewujudkan Guru Berkarakter, Profesional, dan Berprestasi.”

Acara yang diselenggarakan dalam rangka pembinaan dan pengembangan guru, di awal tahun pelajaran 2019/2020 ini, diikuti oleh kurang lebih 175 guru di lingkungan pondok pesantren maskumambang, mulai dari jenjang MI, MTs, MA, hingga SMK I dan II.

Acara berlangsung penuh hikmat, sesekali penuh canda dan gelak tawa ringan, sebab bapak profesor selaku pemateri tunggal cukup piawai dalam mengelola audience. Wah, wah.. hebat pak prof!

Diawal kajiannya, beliau bertutur tentang eksistensi guru. Bagaimana hakekat, peran dan fungsinya. Dan berikut ini beberapa ulasan dari apa yang beliau sampaikan.

Jika pilihan menjadi guru, adalah pilihan sejak awal, maka berbahagialah dan bersyukurlah. Sebab hal ini akan melahirkan kesungguhan dalam menjalaninya. Meskipun, tidak dapat dipungkiri banyak juga yang menjadi guru sebab pilihan yang kesekian kalinya. Namun pada akhirnya, profesi ini dijalaninya dengan seksama, penuh kesungguhan dan pada akhirnya melahirkan kepuasan dan kebanggaan tersendiri menjadi seorang guru profesional.

Memang tak dapat dipungkiri, profesi guru, tidaklah semegah bila dibandingkan dengan profesi Dokter. Tak seglamor bila dibandingkan dengan profesi Polisi, Hakim atau Akuntan. Atau bahkan masih kalah jauh dan gengsi dengan profesi Arsitektur, Direktur, Pilot dan sebagainya.

Coba, sekarang kita telisik lebih dalam. Lebih banyak mana peminat jurusan kedokteran dengan jurusan keguruan. Lebih banyak mana, peminat jurusan manajemen dengan jurusan ilmu pendidikan saat calon mahasiswa mendaftar jurusan perkuliahan. Tentu saja, jurusan keguruan, menjadi pilihan yang kesekian kalinya, bukan? Hehe...

Sahabat guru yang berbahagia. Lupakan sejenak, kita berangkat dari mana. Tanggalkan sejenak, kita berasal dari mana dalam memulai menjalani profesi guru. Meski sekalipun, profesi guru yang sekarang kita jalani ini, bukanlah pilihan yang utama, dan bukan pula cita-cita sejak kecil. Maka, tak usalah gelisah. Tak perlulah berkeluh kesan. Tetap semangat dan lanjutkanlah. Jalani profesi guru dengan seksama, penuh ketulusan, dan keikhlasan. Harus total dan dengan kesungguhan sepenuh jiwa. Jadikan profesi guru sebagai “passion.” Iya, yang utama. Ia yang melekat dalam diri kita.

Seseorang yang menjalani profesinya dengan total, profesional dan dengan kesungguhan, apapun itu profesinya. Maka yakinilah profesi itu akan tumbuh dengan baik, penuh prestasi dan bergelimang kejayaan.

Sebagai contoh, kenapa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi saat ini bisa menjadi pemain sepakbola terhebat dunia dengan segudang prestasinya? Tentu saja, sebab sepakbola telah dijadikannya sebagai “passion.” Iya, sepakbola telah melekat, menyatu, menjadi bagian penting urat nadi di sepanjang perjalanan hidupnya. Bagi keduanya, sepakbola adalah segalanya.

Sahabat yang budiman. Begitulah seharusnya kita, dalam menjalani profesi apapun. Termasuk pula, profesi sebagai guru.

Menurut Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si dalam uraiannya beliau menegaskan bahwa, salah satu persoalan kenapa pendidikan bangsa kita ini, jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa eropa adalah karena belum melekatnya “passion” guru dalam jiwa guru. Guru masih setengah-setengah dalam menjalani profesinya. Guru masih tak maksimal dalam menjalankan tugasnya. Guru sendiri masih belum bangga dengan profesinya.

Disamping itu pula, salah satu persoalan pokok lainnya dalam dunia pendidikan bangsa kita adalah salah orientasi. Maksudnya, masih banyak lembaga pendidikan di negeri ini, yang menempatkan nilai-nilai kognitif sebagai hal yang utama dan diatas segalanya. Menjadikan nilai UN (Ujian Nasional) sebagai tolak ukur sesungguhnya bagi keberhasilan siswa. Nilai UN (Ujian Nasional) masih dianggap sebagai segalanya yang terkadang mengabaikan aspek-aspek yang lainnya.

Orang tua lebih takut anaknya tidak lulus UN daripada anaknya kurang mengerti soal pelajaran agama. Orang tua lebih khawatir jika anaknya tidak bisa Matematika, dan Bahasa Inggris daripada mengkhawatirkan anaknya belum bisa menghafal surat dan do’a-do’a harian. Masyaallah.

Dalam uraiannya, Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si juga menjelaskan. Bahwa guru itu perlu memahami tentang teori-teori belajar dalam rangka menunaikan tugasnya mendidik siswa, meraih cita-cita. Dikatakan bahwa, terhadap beberapa teori dalam belajar. Dua diantaranya, yang terkenal adalah teori Behavioristik dan teori Konstruktivistik.

Menurutnya, dalam teori Konstruktivistik ini, belajar adalah memberikan makna pada pengetahuan. Belajar adalah membangun konsep diri (self concept). Guru akan membantu siswa menggali makna pengetahuan. Peran guru sebagai fasilitator. Siswalah yang lebih dominan dalam proses kegiatan belajar (Student center learning). Pemahaman guru tak harus sama dengan siswa. Maka teori belajar Konstruktivistik ini akan melahirkan pembelajaran yang bersifat outentik, yakni pembelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Lain halnya dengan teori Behavioristik. Menurutnya, dalam teori ini. Pengetahuan dianggap sebagai hal yang obyektif, pasti dan konstan. Belajar adalah menimba ilmu. Mengajar adalah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga peran guru begitu dominan. Pemahaman guru harus sama dengan siswa. Maka teori belajar ini akan melahirkan yang namanya TCL (Teacher center learning).

Sahabat. Sebagai guru, maka sudah selayaknya, kita menjalani profesi kita dengan sebaik-baiknya. Menunaikan tugas sesuai dengan tupoksinya. Menjalankan aktivitas dengan totalitas. Niat, kesungguhan disertai keikhlasan. Menjadikan guru sebagai “passion” profesi kita.

Satu hal yang takkalah pentingnya, disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si adalah tentang pentingnya pendekatan outentik learning dalam metode pembelajaran yang guru lakukan.

Bawalah siswa kedalam kehidupan nyata di setiap pembelajaran. Bangun pembelajaran yang lebih bermakna. Yang bukan hanya sekedar teori, namun lebih jauh dikaitkan dalam konteks realitas di kehidupan nyata.

Iya, itulah pembelajaran outentik. Pembelajaran yang akan lebih merasuk di sanubari. Melekat dalam hati. Dan lebih berarti. Menyadarkan dan menumbuhkan nilai-nilai dalam membangun karaktek peserta didik tentang arti hidup yang sebenarnya dan bagaimana seharusnya bertingkah pola di kehidupan yang sesungguhnya.

Terima kasih Pak Prof., yang telah banyak memberikan sentuhan ilmu, lewat paparan dan pesan-pesan yang begitu mendalam. Sungguh, kajian yang bernutrisi yang mampu memompa jati diri. Membangkitkan gairah untuk terus belajar. Betapa kita harus terus berbenah meningkatkan kualitas. Menjadi guru berkarakter, profesional dan berprestasi dalam bingkai rida ilahi . Insyaallah.

Selamat beraktivitas. Sambut hari dengan senyuman disertai doa dan harapan. Semoga Allah, merahmati dan meridai di setiap langkah kita. Aamiin.

Majulah insan pendidik. Jayalah peserta didik.

Wassalam, salam santun dari hati yang terdalam, semoga bermanfaat.

  • Share :

Kerjasama