Memperingati HUT Kemerdekaan RI : Strategi Perang Muncul dari Ponpes Maskumambang

Sumber : Jawa Pos. Com 6 Juni 2017, 10:00:04 WIB

SEJAK 1281 HIJRIAH: Bangunan Pondok Pesantren Maskumambang di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, yang berbatasan dengan Lamongan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pondok pesantren (ponpes) bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Ponpes juga punya sumbangsih besar merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah Ponpes Maskumambang di Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun, Gresik.

AZAN Asar baru berkumandang saat Jawa Pos memasuki gerbang kompleks Ponpes Maskumambang, Jumat (2/6). Ratusan santri berbondong-bondong menuju masjid. Selepas salat, santri tidak langsung bubar. Sore itu mereka mendengarkan ceramah yang disampaikan pimpinan Ponpes Maskumambang, KH Fatihuddin Munawwir. Baru beberapa menit berselang, para santri kembali ke asrama. ’’Ini kebiasaan setiap selesai salat berjamaah. Santri tidak boleh bubar dulu,” kata pengasuh ponpes Nidlol Masyhud.

SEJAK 1281 HIJRIAH: Bangunan Pondok Pesantren Maskumambang di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, yang berbatasan dengan Lamongan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pria yang menjabat direktur kepesantrenan Ponpes Maskumambang itu bercerita, ponpesnya berdiri sejak 1859 Masehi atau 1281 Hijriah. Pendirinya adalah seorang ulama bernama KH Abdul Djabbar. Konon, dia masih keturunan Joko Tingkir, putra Raja Brawijaya. Bangunan awal sangat sederhana, berupa langgar panggung. Atapnya dari anyaman daun kepala.

Kian lama, santri yang datang mengaji makin banyak. KH Abdul Djabbar lantas menambah tiga langgar panggung untuk santri mengaji. Pada 1907 KH Abdul Djabbar wafat dalam usia 87 tahun. Dia digantikan putranya yang bernama KH Muhammad Faqih. Dia adalah ulama tersohor di Jawa. Belakangan, dia terkenal dengan nama KH Faqih Maskumambang. ’’Beliau ahli tafsir, tauhid, fikih, mantik, dan lain-lain,” tutur Nidlol. Ponpes Maskumambang semakin berkembang. Santrinya datang dari berbagai daerah. Bangunan tempat santri mengaji pun bertambah meskipun masih sangat sederhana.

Selain mengembangkan pondok, KH Faqih Maskumambang aktif di organisasi dan pergerakan. Bahkan, dia termasuk seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. KH Faqih Maskumambang menjabat wakil rais akbar NU di bawah KH Hasyim Asy’ari. KH Faqih Maskumambang meninggal pada 1937. Kepemimpinannya digantikan putra keempat KH Muhammad Faqih yang bernama KH Ammar Faqih. Nah, pada masa KH Ammar Faqih itulah, Ponpes Maskumambang sering terlibat dalam pergerakan merebut kemerdekaan.

Abdurrahman, 70, santri KH Ammar Faqih, menceritakan, areal Ponpes Maskumambang kerap dijadikan markas para pejuang. Mulai Laskar Hizbullah hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI). Gerilyawan berasal dari Gresik, Surabaya, hingga Lamongan. Mereka menjadikan ponpes sebagai tempat menyusun strategi perang dan tempat bersembunyi dari serangan musuh. ’’Kalau ada gerilyawan, ya terpaksa santri-santri pulang dulu ke kampung,” tutur Abdurrahman.

Momen-momen tersebut berlangsung selama masa pendudukan Jepang pada 1942–1945. Serta, agresi militer Belanda I dan II pada 1947–1948. Bahkan, tutur Pak Dul –panggilan Abdurrahaman–, KH Ammar Faqih pernah dipenjara tentara Jepang selama beberapa bulan. Penahanan tersebut dipicu oleh ceramahnya yang menyebut Jepang sebagai kafir. Karena itu, rakyat tidak perlu patuh dengan perintah Jepang. ’’Tidak lama kemudian, beliau dibebaskan,” tutur Pak Dul.

Meski demikian, oleh Shumubu (Kementerian Agama masa Jepang), KH Ammar Faqih diangkat sebagai kepala urusan agama Karangbinangun, Lamongan. Namun, jabatan tersebut rupanya sangat politis. Tujuannya, Jepang mendapat dukungan ulama dalam melawan musuh-musuhnya. ’’Tetapi, KH Ammar Faqih ulama cerdik. Kedekatan dengan Jepang dimanfaatkan untuk berbagi informasi ke tentara dan pejuang kemerdekaan,” tambah Abdurrahman.

KH Ammar Faqih merupakan ulama yang arif dan bijaksana. Pernah suatu saat, 1947, tentara Indonesia berencana membakar Pasar Dukun. Tentara beralasan bahwa pasar hanya menguntungkan penjajah Belanda. Sebab, pajaknya dikuras habis untuk tentara Belanda. Ternyata, rencana tersebut ditentang KH Ammar Faqih. Menurut beliau, pembakaran pasar akan menyengsarakan para pedagang. Sebab, para pedagang adalah warga pribumi. Akhirnya, Pasar Dukun batal dibakar.

Pada 1965 KH Ammar Faqih pun mangkat. Dia digantikan menantunya yang bernama KH Nadjih Ahjad hingga 2015. KH Nadjih Ahjad membawa ponpes dikelola oleh yayasan bernama Yayasan Kebangkitan Umat Islam (YKUI) Maskumambang. Status kepemilikan pesantren pun beralih dari pribadi ke lembaga

Kini, Ponpes Maskumambang berkembang menjadi pondok pesantren modern. Menempati lahan seluas kurang lebih 5 hektare, Ponpes Maskumambang memiliki banyak bangunan besar dan modern. Banyak santrinya yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti NTT, Sumatera, dan Sulawesi. Ponpes juga menyelenggarakan beragam pendidikan. Di antaranya, MI, MTs, MA, SMK, dan perguruan tinggi (PT). Setelah KH Nadjih Ahjad wafat, kini ponpes dipimpin KH Fatihuddin Munawwir. (Umar Wirahadi/c7/oni)

  • Share :

Kerjasama