Belajar Mandiri Menyusun RPP Lewat Workshop

05 Oct
0 comment

Oleh Husni Mubarrok

“Luar biasa, membakar gairah dan memacu adrenalin guru untuk bisa mandiri dalam menyusun perangkat pembelajaran,” itulah kata-kata yang bisa aku lukiskan kepada bapak Imam Arifin, S.Pd, M.Pd saat memberikan Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Kurikulum 2013 Edisi Revisi di Aula pertemuan Pondok Pesantren Maskumambang Dukun Gresik. Iya, acara yang dikemas dengan model Workshop yang diikuti kurang lebih 45 guru MTs YKUI Maskumambang Gresik itu, sungguh sangat menarik. Selain isi materi yang sangat pas dengan kebutuhan guru terkait dengan bagaimana menyusun perangkat pembelajaran K-13 Edisi Revisi secara benar dan tepat, guru juga diajak untuk kembali mereviuw sembari merefleksi diri tentang bagaimana penyusunan perangkat pembelajaran yang selama ini dilakukan. Tentu ini penting, karena tujuan dari Workshop ini adalah mengajak guru-guru untuk lebih mandiri dan profesional dalam menyusun perangkat pembelajaran, yang bukan hanya dilakukan sekedar copy paste.

Acara yang dimulai tepat pukul 08.15 dan berakhir sekitar pukul 15.30 WIB, tepat di hari Rabu (04 Oktober 2017) ini, sungguh sangat berkesan. “Membakar dan Merefleksi” adalah dua kata kunci yang begitu mewarnai selama berlangsungnya kegiatan. Bapak Imam, begitu panggilannya, tidak henti-hentinya memompa dan memotivasi peserta Workshop untuk menjadi guru yang handal sekaligus mandiri dalam menyusun perangkat pembelajaran. “Jadi guru itu harus mandiri, tidak boleh hanya copy paste, ingat harus mandiri” begitu kata-kata beliau yang kerap meluncur deras selama berlangsungnya acara.

Iya, Bapak Imam Arifin, adalah pemateri tunggal dalam Workshop itu, beliau adalah salah satu pengawas Pendidikan Agama Islam Kemenag Kabupaten Gresik di Sekolah kami. Banyak hal yang beliau sampaikan, mulai dari latar belakang kenapa kurikulum harus direvisi oleh pemerintah, pada aspek mana kurikulum itu mengalami perubahannya, bagaimana langkah-langkah menyusun RPP hingga demonstrasi menyusun RPP Edisi Revisi secara mandiri. Woow, sungguh menantang!

Memang menjadi guru itu tidaklah mudah, guru bukan hanya sebatas mentransfer ilmu lalu pergi meninggalkan siswa begitu saja saat selesai pembelajarannya. Bukan, bukan demikian. Menjadi guru, diperlukan persiapan, bukan mengajar ala kadarnya. Seorang guru itu, laksana sedang pergi berperang, diperlukan strategi dan perbekalan matang, agar nantinya tak mengecewakan. Sebelum masuk kelas, guru harus dibekali persenjataan, agar nantinya tak jadi rasan-rasan. Hehe..

Dalam uraiannya, Bapak Imam Arifin, S.Pd, M.Pd menjelaskan tentang arti pentingnya RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bagi seorang guru. Diibaratkan RPP, adalah sebuah rel kereta api, ia lah yang akan membawa kemana gerbong kereta api itu pergi menuju tempat yang dicapai. Sama halnya dengan umat Islam contohnya, butuh pedoman dalam menapaki perjalanan hidup ini, agar nantinya selamat sampai tujuan dan tak tersesat ditengah jalan, dan tahukah kita apa pedomannya?. Tentunya, tak lain adalah Al-Qur’an dan Al Hadist. Lantas bagaimana dengan guru?, supaya dalam mengajarnya tak salah arah dan tak salah kaprah. Maka tentu, diperlukan pedoman sebagai pegangan dan pijakan dalam mengajar. Iya, pegangan itu, bernama RPP. RPP lah yang akan menuntun guru bagaimana guru harus bertindak dan mendesain pembelajaran. Dengan RPP lah, seorang guru akan lebih terarah dalam mengajar, bukan mengajar tanpa arah, yang pada akhirnya tak tentu arah. Jelas yang jadi korban adalah para siswa. Wah..wah, kasihan deh mereka!

  1. Oleh karenanya, RPP harus dibuat secara matang, perlu analisis yang mendalam. Dalam uraiannya, Bapak Imam Arifin menjelaskan, bahwa dalam menyusun RPP K-13 Edisi Revisi harus memunculkan 4 hal, yaitu:
    Mengintengrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 hal, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
  2. Mengintengrasikan literasi. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Seperti melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.
  3. Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical Thinking, Communicative, dan Collaborative) yang bukan sekedar transfer materi semata.
  4. Serta harus Mengintengrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill) yaitu kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
    Wah..wah, keren sekali materi yang disampaikan oleh Bapak Imam Arifin tadi. Karena cara menyampaikannya enak dan menarik, tak terasa waktupun berjalan dengan cepat hingga pada akhirnya acarapun ditutup tepat di jam 15.30 setelah rehat beberapa saat untuk makan dan sholat. Semoga ilmu yang telah didapat menjadi suntikan motivasi penuh hasrat dalam meningkatkan kualitas, utamanya dalam menjalani profesi menjadi pendidik yang berkualitas. Salam Dahsyat!.

Leave your thought